Saturday, February 27, 2016

Sungai Terpendek Di Dunia Sungai Tamborasi

Siapa yang mengira jika sungai terpendek di dunia berada di Indonesia, Tepatnya bisa dijumpai di Kabupaten Kolaka - Sulawesi Tenggara. yaitu Sungai Tamborasi yang hanya membentang sekitar 20 meter dengan lebar sekitar 15 meter. Dan sementara sungai terpanjang di dunia adalah sungai Nil yang berada di Afrika.

Dan ternyata tidak hanya pantai dan keindahan bawah laut wakatobi yang ada di Sulawesi Tenggara yang memiliki daya tarik tersendiri di dunia, sungai Tamborasi termasuk salah satu objek wisata yang patut dibanggakan.

Sungai Tamborasi yang membentang sepanjang 20 meter dengan lebar sekitar 15 meter telah tercatat dalam Guinness Book of World Records sebagai sungai terpendek di dunia.

Sungai terpendek di dunia ini tepatnya berada di Desa Tamborasi, Kecamatan Wolo. Dan Desa Tamborasi sendiri diapit oleh Pegunungan Tamborasi dan bersanding di Teluk Bone. Air sungai yang mengalir segar berasal dari sebuah mata air yang berada diantara bebatuan tebing, dan tampak berwarna hijau dengan aliran air sungai sangat tenang sekilas mirip dengan air danau tetapi sejatinya air di sini mengalir. Dan memang jika dilihat sepintas, sungai terpendek di dunia ini terlihat seperti danau, tetapi aliran air yang mengalir menunjukan bahwa ini adalah sungai.

Hulu di sungai berhubungan langsung dengan laut pantai Tamborasi. Uniknya, kedua sumber air memiliki suhu yang berbeda. Air sungai terasa dingin dan air pantai lebih hangat. Terkadang terumbu karang pun terlihat jika air pantai menyurut.

Permandian alam ini merupakan tujuan wisata keluarga, sangat ramai ketika hari raya tiba. Jika  beruntung, binatang endemik seperti monyet berbulu emas dan beberapa spesies burung laut akan ditemukan di sekitar Sungai Tamborasi. Ada mitos lahir di Sungai Tamborasi. Konon apabila pengunjung dapat mengikatkan sebuah tali pada akar-akar pohon di pinggiran sungai, penduduk setempat percaya bahwa jodoh akan datang atau hubungan akan jadi harmonis.

Tarian Boshu Buton Melibatkan 20.000 Penari

Tarian Kolosal Bantena Butuni

Festival Budaya Tua Buton yang menampilkan pergelaran tarian kolosal Bantena Butuni (Tari Boshu) memecahkan rekor baru Muri, yaitu Perhelatan Tarian dengan melibatkan 20.000 penari.

Senior Manager MURI Paulus Pangka menyerahkan langsung piagam Rekor Muri kepada Bupati Buton, Samsu Umar Abdul Samiun SH, sebagai penggagas diselenggarakannya Festival Budaya Tua Buton dengan menghadirkan tiga adat tua Buton, yaitu Pedhole-Dhole, Pekande-Kandea, dan Tari Boshu.  Sebelumnya Upacara Adat Pedhole-Dhole, Pekande-Kandea sudah tercatat dalam rekor Muri. Pedhole-Dhole di ikuti 1.000 anak dan Pekande-Kandea 1.090 talang (nampan makanan).

Pekande-Kandea Budaya Phedole-Dhole
Tarian Kolosal Boshu sarat akan makna yang melambangkan semangat persatuan warga Sulawesi Tenggara. Tari kolosal Bentena Butuni, gerak dasarnya terinspirasi dari gerak Bhosu, karya almarhum La Ode Umuri Bolu. Dalam tari Boshu ada Mia Patamiana yang tertdiri empat orang yang punya pandangan berbeda tetapi memiliki tujuan yang sama yaitu membangun Kerajaan Buton yang kemudian berubah menjadi Kesultanan Buton. Keempat orang itu, yakni Si Panjonga, Si Jawangkati, Si Malui, dan Si Tamananjo.

Perhelatan Tarian Kolosal Boshu ini sekaligus untuk mempertahankan budaya Buton Sulawesi Tenggara, karena tari Boshu ini dapat menyatukan lawan maupun sahabat menjadi lebih dekat lagi. Serta untuk mempromosikan kebudayaan Buton sekaligus mempromosikan daya tarik dan tujuan wisata di kabupaten ini. 

Jauh sebelumnya, Pulau Buton lebih dikenal sebagai lalu lintas perdagangan laut. Di kabupaten ini menyimpan berbagai keindahan dan daya tarik wisata berupa pantai-pantai indah, kaya akan adat istiadat, wisata pegunungan, kuliner dan lainnya. Dan beberapa objek wisata yang biasa dikunjungi diantaranya Benteng Keraton Buton, Pantai Nirwani, Air Terjun Tirta Rimba, Pantai Lakeba dan Air Terjun Samparona.